Dunia Akademik: Teori Social Co-Presence Dalam Komunikasi Seluler.

Teori kehadiran bersama sosial (social co-presence theory) lahir dari gabungan teori kehadiran sosial (social presence theory) dan teori kehadiran bersama (co-presence theory). Kehadiran atau dalam pemahaman awalnya dari bahasa Inggris, presence, dapat diartikan sebagai ilusi persepsi tanpa suatu mediasi (Lombard & Ditton, 1997). Pemahaman seperti ini memperlihatkan bahwa orang-orang merasa suatu kehadiran disebabkan adanya keinginan perasaan akan ketidakpercayaan yang perlu dijelaskan dengan bangunan realitas dalam lingkungan yang termediasi (Lee, 2004b). Lee (2004a) maupun Nass (dalam Lee & Nass, 2004) mengatakan bahwa kehadiran sebagai suatu keadaan psikologi dalam pengalaman yang virtual yang tidak disadari. Kehadiran seringkali dikategorisasikan dalam dua fenomena yang saling terkait (Heeter, 1992; Biocca, 1997; Biocca, Harms & Burgoon, 2003) yaitu pertama, telepresence, perasaan mereka yang berinteraksi tentang kehadiran dalam ruang virtual tanpa perasaan menjadi bersama dengan orang lain misalnya dalam komunikasi telemarketing. Kedua adalah social presence, yang memperlihatkan mereka-mereka yang berinteraksi menjadi bersama dengan orang lain dalam ruang seperti berbagi emosi atau pikiran antara mereka yang saling berinteraksi melalui komunikasi yang termediasi. Teori ini biasa digunakan dalam computer mediated communication (CMC). Teori kehadiran sosial mempertimbangkan cara-cara kesuksesan media membawa makna partisipan-partisipannya seperti hadir secara fisik; komunikasi tatap muka digunakan sebagai standar untuk penilaian. Dimensi kehadiran sosial tidak hanya pada fitur verbal dari pertukaran tetapi juga pada isyarat vokal dan nonverbal, bahasa tubuh, dan konteks (Rice, 1993; 1987). Isyarat sosial yang berkurang (misalnya bahasa tubuh, gerakan isyarat, penampilan dll) dalam CMC disebabkan oleh bandwidth yang rendah, yang mempengaruhi komunikasi (Walter, 1993). Kehadiran sosial secara fundamental mempengaruhi partisipan memberikan emosi, intimasi, dan imediasi (kesiapan). Kajian-kajian awal dalam CMC memperlihatkan pesan yang lebih personal dengan konten emosi sosial yang lebih rendah menyebabkan kurangnya isyarat tentang konteks sosial (Hiltz, Johnson, & Turoff, 1986). Teori “cuesfiltered-out” (Sproull & Kiesler, 1986) digunakan untuk menjelaskan observasi ini (Culnan & Markus, 1987). Dengan demikian jelas bahwa hal ini membatasi informasi sosial, emosi dan kontekstual yang memiliki konsekuensi penting dalam interaksi khususnya pembentukan hubungan interpersonal sebagai fokus utama. Menurut Preece (2000), terdapat tiga cara utama bahwa hal-hal tersebut mempengaruhi komunikasi. Pertama, sinyal diperlukan untuk memahami percakapan yang hilang. Kedua, manajemen pembicaraan berubah dapat dimodifikasi; ketiga, ketidakmungkinan dalam penglihatan dan pendengaran dan dapat membuat lebih sulit untuk memahami informasi berdasarkan konteks pembicaraan dan perasaan pendengar. Dalam komunikasi tatap muka, subyek dapat menggunakan saluran komunikasi ganda ketika subyek menyampaikan konten emosional. Dalam telepon, pembicara tergantung secara utama pada linguistik dan isyarat vokal non-verbal dan dapat menggunakan jenis sinkronis interaksi. Lingkungan komunikasi dikarakteristik oleh tingkat virtualitas lebih tinggi dibandingkan jenis interaksi yang terjadi dalam percakapan normal. Kemudian, ketika percakapan tatap muka terjadi dalam lingkungan yang kooperatif secara konstan diatur oleh penyesuaian dan koreksi mutual yang memiliki umpan baik yang konstan (Goodwin & Heritage, 1990), CMC terjadi dalam lingkungan yang kurang kooperatif karena kondisi khusus yang disebakan oleh medium itu sendiri (Brenan, 1991). Yang kritis dalam konteks ini adalah kurangnya umpan langsung dan cepat sehingga membuat lebih sulit dalam memaknai perhatian pasangan. Walaupun demikian, ketidakhadiran fisik dan isyarat nonverbal tidak harus berarti bahwa medium komputer atau telepon seluler bersifat impersonal (secara penuh) atau menghilangkan isyarat sosial, atau mengisyaratkan kurangnya transmisi yang lemah dari yang dikomunikasikan secara tatap muka (Lea dan Spears, 1995). Teori kehadiran sosial (social presence) awalnya berasal dari teori-teori psikologi sosial dalam komunikasi interpersonal yang menganggap kehadiran sosial sebagai suatu yang hadir atau tidak secara sederhana. Dalam telekomunikasi, Short, William, dan Christie (1979) mendefinisikan “social presence” sebagai suatu tingkat penonjolan dari orang lain dalam komunikasi yang termediasi dan konsekuensi penonjolannya dalam interaksi interpersonal. Artinya kehadiran sosial tidak lagi diartikan sebagai suatu yang hadir atau tidak secara sederhana melainkan keberadaan sebagai suatu keberlanjutan (Kang, 2008). Pendapat ini sepertinya dipengaruhi oleh dugaan Goffman tentang “copresence” (Goffman, 1963) yang mendefinisikan secara luas sebagai kesadaran bersama tentang frase “menjadi bersama” dengan interaksi dua orang yang sadar antara satu dengan lainnya dalam ruang virtual, dan kesadaran mutual sebagai esensi kehadiran sosial. Kehadiran teknologi telah memiliki dampak yang besar dalam komunikasi manusia dengan manusia lainnya dan memperkuat konseptualisasi dari kehadiran sosial. Kekuatan teknologi mempengaruhi kehadiran sosial dalam komunikasi atau interaksi yang termediasi oleh teknologi. Hal seperti yang dilakukan oleh Biocca, Harms, dan Christie (2003) dengan mengajukan definisi komprehensif kehadiran sosial dengan dasar psikologi khususnya dalam interaksi yang termediasi. Biocca dkk. mengelaborasi definisi kehadiran sosial dengan anggapan bahwa kehadiran bersama melibatkan model orang-orang yang berinteraksi dan keinginan untuk mengakses orang lain dalam hubungan psikologi dibalik konsep kesadaran fisik. Biocca dan Harms (2002, dalam Kang, 2008) menilai bahwa efektivitas interaksi yang termediasi dapat dicapai dengan menciptakan kehadiran sosial dan peningkatan komunikasi sosial. Oleh karena itu, Biocca dkk. (2003) mengatakan bahwa pengukuran kehadiran sosial dapat digunakan untuk menilai performa teknologi bergerak seperti telepon genggam. Komunikasi telepon seluler digunakan untuk mengidentifikasi formasi dan kegiatan sehari-hari dalam paradigma jaringan sosial dan dalam sistem sosial berbasis orang yang saling berinteraksi berdasarkan kepercayaan (Nyiri, 2003). Telepon seluler memberikan penggunanya berbuat secara dinamis dan memberikan interaksi sosial yang lebih kuat tanpa harus menghadirkan diri setiap saat. Kang (2008) mengatakan bahwa dalam penelitian yang terkait dengan komunikasi telepon seluler, penelitian tersebut berakar dari hubungan kualitas dan kuantitas antara sesama orang yang saling berinteraksi tersebut. Kang juga lebih lanjut mengatakan bahwa dalam komunikasi telepon seluler terdapat tiga ruang yaitu dua ruang yang nyata dari orang yang saling bertelepon dan satu ruang dalam telepon. Orang-orang dapat berkomunikasi pada ruang ketiga yang posisinya ada di jaringan telepon tersebut secara bergerak setiap saat dan setiap waktu. Hal ini menekankan pentingnya konsep keterhubungan yang melekatkan dalam jaringan sosial dan interaksi sosial. Komunikasi telepon seluler memberikan ruang bagi orang-orang yang merasa terhubung antara satu dengan lain dalam jaringan komunikasi virtual. Selalu hadir dalam komunikasi telepon seluler juga memberikan kontribusi yang kuat dalam rasa keterhubungan (Kang, 2008). Sehingga dengan sendirinya situasi ini memberikan orang-orang yang berkomunikasi antara satu dengan lain makin terlibat dan responsif dalam lingkungan yang termedia seolah-olah mereka dalam situasi yang sama. Swinth dan Blascovich (2002) kemudian mengatakan bahwa deskripsi dominan dari co-presence telah digunakan untuk menggantikan kehadiran sosial (social presence) (Bailenson et al., 2006) dan kedua definisi ini dapat digunakan secara timbal balik. Walaupun demikian, Nowak (2001), Schroeder dkk (2001), Swinth dan Blascovich (2002) membedakan asumsi tentang kehadiran sosial (social presence) dan konsep kehadiran bersama (copresence). Schroeder dan rekan-rekannya menekankan kehadiran bersama sebagai suatu pendapat yang menggambarkan keterlibatan orang melalui sesuatu dan mengerjakan sesuatu bersama dalam ruang yang dihasilkan oleh teknologi seperti komputer yang membuat Collaborative Virtual Environment (CVE) yang terintegrasi dengan teknologi virtual reality (VR). Swinth dan Blascovich juga mendeskripsikan suatu perbedaan antara pendapat kehadiran sosial dan kehadiran bersama yang didefinisikan dalam kajian komunikasi dengan yang didefinisikan dalam lingkungan virtual. Menurut Swinth dan Blascovich, kehadiran bersama (co-presence) dapat dirasakan ketika orang-orang yang komunikasi berada dalam lokasi yang berbeda secara fisik namun mereka mempersepsikan satu sama lain dalam situasi bersama dalam lingkungan interpersonal yang sama. Artinya kehadiran bersama tidak merupakan syarat dari kehadiran sosial bersama yang dipertimbangkan memiliki dimensi fisik. Jenis kehadiran bersama yang dikatakan oleh Swinth dan Blascovich (2002) dapat ditemukan pada penelitian kehadiran bersama dari percakapan telepon yang dibuat oleh Biocca dan Delaney (1995). Kehadiran bersama pada penelitian Biocca dan Delaney didefinisikan sebagai perasaan bersama dengan orang lain dalam situasi percakapan. Dalam konteks ini orang-orang yang berkomunikasi dapat merasakan secara penuh kebersamaan tersebut walaupun mereka berada dalam lokasi fisik yang berbeda. Biocca, Harms, dan Christie (2003) menyarankan penggunaan kehadiran sosial (yang juga dianggap sebagai kehadiran bersama) dapat mengukur suatu evaluasi dari sistem performa telepon seluler. Rettie (2003) mengatakan bahwa keterhubungan merupakan suatu faktor yang kritikal dalam memilih saluran komunikasi seperti dalam rasa bersama dalam komunikasi telepon seluler. Apalagi selain Rettie, konsep keterhubungan dalam komunikasi telepon seluler telah banyak dideskripsikan sebagai bentuk keterikatan sosial (Townsend, 2001; Ling & Yvittri, 2022; De Gournay, 2002; Katz & Aakhus, 2002; Agar, 2003). Keterhubungan dalam komunikasi telepon seluler memperlihatkan bahwa panggilan telepon dapat dibingkai sebagai suatu interaksi sosial dalam telepon yang dipersepsikan sebagai ruang privasi dan ruang virtual yang dibagi bersama (Rettie, 2004). Dengan kerangka kerja berdasarkan Goffman (1959), Rettie memperkenalkan suatu cara eksplorasi tentang adanya kehadiran dan menggambarkan keterlibatan menonjol dalam bingkai spasial yang dapat menjelaskan perasaan orang yang berinteraksi menjadi lebih dekat dalam interaksi sosial dengan menggunakan telepon seluler. Palen, Salzman dan Young (2001) juga menggambarkan adanya dua ruang dalam penggunaan telepon seluler yaitu ruang fisik dan ruang percakapan. Gergen (2002) memperkenalkan istilah “kehadiran yang absen (absent presence)” yang diperluas dengan kehadiran telepon seluler. Dalam kehadiran yang absen ini terdapat ruang yang komunikatif antara pengguna telepon seluler dan merasa bersama sebagai bentuk dari perasaan keterhubungan. Keadaan ini membuat Kang (2008) mengajukan bahwa alasan orang memilih komunikasi telepon seluler adalah untuk menciptakan dan memperkuat hubungan sosial yang dapat ditemukan dari perasaan keterhubungan. Konsep keterhubungan sendiri menurut Kang adalah untuk menjelaskan kehadiran sosial (social presence) orang-orang dalam komunikasi telepon seluler. Dengan konteks ini Kang mempertegas bahwa kehadiran bersama (copresence) merupakan perasaan terhubung dan kesadaran bersama yang sebenarnya merupakan inti dari kehadiran sosial (social presence) (Rettie, 2004). Sehingga untuk mencapai keberhasilan berkomunikasi dengan menggunakan telepon seluler, orang-orang seharusnya hadir bersama dalam ruang telepon dengan kesadaran bersama dan perasaan terhubung dengan orang lain. Jika kehadiran bersama didefinisikan oleh Nowak dan Biocca (2003) sebagai perasaan terhubung, maka hal ini memperlihatkan adanya pemaknaan yang tumpang tindih dengan keterhubungan. Bagi Kang (2008) perlu dielaborasi lebih lanjut bahwa keterhubungan berbeda dengan kehadiran bersama untuk mendapatkan pemahaman tentang kehadiran sosial dalam komunikasi telepon seluler. Biocca, Harms dan Burgoon (2003) mendefinisikan kehadiran bersama (copresence) sebagai perasaan berhubungan dengan pikiran orang lain (Nowak & Biocca, 2003) atau hubungan psikologi antara dan dengan orang lain (Nowak & Biocca, 2003) yang melibatkan orang yang berinteraksi secara mutual dan kesadaran aktif tentang adanya orang lain. Nowak dan Biocca mengkonstruksi dua skala dari kehadiran bersama. Pertama adalah skala yang mengukur orang-orang yang berinteraksi mempersepsikan kehadiran bersama tentang keterlibatan interaksi pasangannya. Kedua adalah skala yang mengukur keadaan diri orang yang berinteraksi dalam kehadiran bersama (Nowak, 2001). Sehingga pendefinisian tentang kehadiran bersama melibatkan kesadaran sensorik yang melekat, lokasi bersama, eksistensi yang muncul, umpan balik atau interaktivitas dengan orang lain, dan perasaan kebersamaan (Kang, 2008). Gambar 1 Diagram yang mengilustrasikan hubungan logis antara kehadiran sosial, keterhubungan, dan kesadaran (Rettie, 2003) Rettie (2003) menggambarkan rasa keterhubungan sebagai perasaan bersama. Keterhubungan didefinisikan oleh Rettie sebagai keterlibatan psikologi orang yang berinteraksi melalui pengalaman emosional yang ditimbulkan secara independen oleh kehadiran orang lain. Definisi ini berbeda dengan definisi kehadiran sosial yang mengatakan bahwa orang berinteraksi melibatkan psikologi dan penilaian persepsi dari partisipan lain dan atau dari media atau akses yang dipersepsikan dengan kecerdasan lainnya (Biocca et al., 2001). IJsselstein, Baren, dan Lanen (2003, dalam Kang, 2008) dan Abeele, Roe dan Pandelaere dkk (2007, dalam Kang, 2008) juga menyatakan bahwa pendapat tentang keterhubungan seharusnya berbeda dengan pendapat tentang kehadiran bersama. IJsselstein dkk maupun Abeele dkk mengatakan bahwa pendapat keterhubungan melekatkan manfaat afeksi dari kesadaran sistem. Manfaat afeksi terdiri dari perasaan memiliki teman, atraksi kelompok yang lebih kuat, perasaan dekat, selalu mengikut perkembangan kehidupan orang lain, dan perasaan berbagi, memiliki dan intimasi. Oleh karena itu Rettie (2003) menyarankan bahwa orang yang berinteraksi dapat merasakan perasaan tanpa merasakan kehadiran sosial jika kehadiran bersama menjadi konsep inti walaupun tidak ada kesadaran akan kehadiran orang lain. Jika dilihat dari pengguna telepon seluler, maka perasaan keterhubungan dapat dirasakan tanpa kesadaran orang lain yang muncul ketika terjadi interaksi dengan menggunakan pesan singkat (SMS) dalam telepon seluler (Kang, 2008). Untuk itu, keterhubungan dan kehadiran bersama berbagi keterlibatan psikologi yang akan digunakan untuk mendefinisikan konsep baru kehadiran bersama secara sosial termasuk keterkaitan psikologi (Kang, 2008). Berdasarkan pemikiran ini, perluasan definisi ini memberikan kombinasi konsep kehadiran bersama dikembangkan oleh Biocca dkk dengan persepsi media komunikasi oleh orang yang berinteraksi dengan suatu evaluasi kesuksesan komunikasi oleh orang yang berinteraksi. Kang (2008) mengkonstruksi konsep baru kehadiran sosial atau kehadiran bersama orang yang berinteraksi dalam komunikasi telepon seluler untuk memahami lebih baik efek dari komunikasi telepon seluler dalam komunikasi manusia dan kehidupan sehari-hari. Dengan tegas Kang mengatakan istilah untuk konteks ini disebut dengan Social copresence. Lebih lanjut Palen, Salzman, dan Youngs (2001) mengatakan bahwa orang dapat secara psikologi terlibat dengan keterhubungan dalam ruang percakapan. Misalnya dalam telepon, orang yang saling berinteraksi secara sosial melibatkan dan membangkitkan pengalaman emosional yang berdiri sendiri tanpa kehadiran orang lain secara nyata (Rettie, 2003). Interaksi yang terjadi didasari oleh kepercayaan tingkat tinggi yang saling mutual dan mendukung (Gergen, 2002). Keterhubungan dalam ruang percakapan juga memperkuat intimasi antara pengguna dalam jaringan sosial (Gergen, 2002). Intinya terdapat keterlibatan antara orang yang berinteraksi dan perasaan bersama dalam interaksi sosial dengan menggunakan telepon seluler. Dengan demikian kehadiran bersama secara sosial dapat dipahami sebagai keterlibatan melalui kesadaran mutual antara mereka yang memiliki akses terhadap orang lain secara sadar, psikologi dan emosional (Biocca & Harms, 2002) dalam lingkungan termediasi yang dipersepsikan sebagai suatu kapabilitas yang mendukung komunikasi sosial seperti pada gambar 2 Gambar 2 Diagram yang mengilustrasikan hubungan logis antara komponen-komponen kehadiran bersama secara sosial (Kang, 2008) by:DR. Irwansyah, MA --------------------------- Bandwidth adalah kemampuan untuk membawa seluruh sinyal komunikasi yang diperlukan untuk menyampaikan konten sosial, emosi dan kontekstual. Dalam sistem teks misalnya, baik informasi tugas dan informasi sosial dibawa dalam saluran linguistik dan verbal yang sama dan tunggal yang walaupun cukup untuk kebanyakan informasi tugas, tetapi tidak dapat mentransmisikan informasi non verbal seperti bahasa tubuh, tekanan suara dan lain sebagainya. Dapat dilihat lebih lanjut dalam Culnan, M. J. & Markus, M. L. (1987). Dasar argumentasi teori cuesfiltered-out adalah komunikasi yang bermediasi komputer yang berbasis teks memiliki kekurangan makna fisik dan sosial yang mengarah pada anti normatif dan perilaku yang tidak terhalang. Ruang siber tanda fisik memiliki kekurangan yang menyebabkan penggunannya tidak dapat menggunakan bahasa tubuh, intonasi suara, dan ekspresi wajah. CMC juga memiliki kekurangan pada norma sosial dan standar sosial yang bersama. Hal ini menyebabkan penggunanya lebih agresif dan impulsif. Keterhubungan adalah keterikatan sosial (Kang, 2008). Kehadiran bersama adalah perasaan berhubungan dengan pihak orang lain (Kang, 2008)

No comments:

Post a Comment